Rabu, 02 Agustus 2023

Menjaga Hati

Hanya sekedar unek-unek dalam hati yang semoga bisa terus menjadi reminder bagi diri.

Beberapa hari lalu sempat chattingan sama kakak kelas sekaligus tetangga sekaligus teman main waktu SD. Semoga perbincangan dari kasus ini memberi kami banyak hikmah atau pelajaran yg bisa dipetik.
Zaman ini zaman yg ngeri banget, isu perselingkuhan, pernikahan berkedok poligami, pergaulan bebas, penyimpangan seksualitas, dll membuat hati risih, takut, gundah, khawatir, dan perasaan2 negatif lainnya bergelayutan.

Dari chattingan itu, ada beberapa hikmah yg bisa aku ambil, diantaranya:

ü Lebih baik berguru atau belajar kepada sesama perempuan atau suami sendiri.

Kalau pun mengharuskan belajar kepada lawan jenis, maka metodenya kolosal.

ü Ketika berada dalam kajian ilmu atau berada dalam satu komunitas atau grup yg anggotanya campur (laki-laki dan perempuan), maka perhatikan adab-adabnya. Jangan sampai lisan ini ‘genit’ untuk memuji anggota lain (yg lawan jenis) walau hanya sekedar bercanda. Kita tdk tahu, bagaimana tanggapan org yg kita puji. Mungkin dia merasa dihargai oleh kita krn bisa jadi dia tdk pernah mendapat pujian dari pasangannya. Dan ini bisa menjadi celah bagi setan untuk merusak hatinya dan hati kita.

Rem tangan ini utk tdk ‘gatal’ memencet/mengetik emoticon-emoticon atau kata-kata yg tdk penting (missal: hhehe, wkwkwk, dll) ketika sedang berinteraksi. Minimalisir juga ucapan terima kasih dan maaf, jangan berlebihan.

Jadi ingat perkataan salah satu ustdaz, seharusnya yg lebih sering dipuji dan kita lebih sering berterima kasih atau meminta maaf adalah kepada pasangan kita dan anak-anak kita, bukan kepada orang lain.

Tapi mirisnya, banyak org, justru mereka mengumbar pujian, terima kasih, dan kata maaf utk orang lain. Jarang sekali, mereka mengucapkan kalimat pujian, pengarhagaan, permohonan maaf kepada keluarganya sendiri.

Dan ini bisa menjadi malapetaka bagi hati yg haus akan ucapan-ucapan positif. Terutama Wanita yg senang dipuji.

ü Berhenti untuk mengagumi orang lain atau pasangan orang lain. Khawatirnya, setan datang membisikkan hati kita, bahwa pasangan orang lain lebih baik dari pada pasangan kita, dan menutup mata kita akan kelebihan pasangan kita. Yg akan terus terngiang-ngiang adalah keburukan-keburukan pasangan kita.

Kagumlah pada pasangan kita sendiri, carilah kelebihan-kelebihannya, yg semoga dengan mencari/mengingat kelebihan pasangan kita, dapat menambah rasa cinta dan sayang pada pasangan kita, menumbuhkan kembali gejolak jiwa yg mungkin sudah lama padam.

ü Terus memperbaiki diri, berusaha menutup celah-celah setan yg sekiranya bisa menghancurkan rumah tangga kita.

ü Berdo’a kepada Allah, agar Allah mampukan kita untuk terus menjaga hati ini agar tetap berlabuh pada kekasih halal yg sdh Dia takdirkan. Berjumpa dan berkumpul kembali di syurga-Nya nanti bersama buah hati yg pernah Allah titipkan kepada kita.

Sabtu, 15 April 2023

Mencintai Cinta

Butuh waktu 6 tahun bagi diri ini utk benar-benar bisa memahami arti belahan jiwa yg sejati. Apakah ini waktu yg cukup lama? Ataukah terlalu dini? Entahlah.

Ketika hati ini mulai melabuhkan pada sang kekasih halal, terus tumbuh dan bersemi, mulai ada ketergantungan hidup kepadanya. Di saat itu, Allah pisahkan ruang dan jarak. Mungkin ini adalah ujian dan teguran bagi diri, agar hati ini tdk menaruh cinta berlebih pada makhluk melebihi kecintaan pada-Nya.
Bagaimana rasanya?
Jujur, berat banget rasanya, ditambah kondisi sekarang yg harus membersamai 4 balita dalam keadaan hamil besar.

Tapi selalu yakin, ini adalah skenario terindah yg Allah rancang dalam hidupku karena kecintaan-Nya pada hamba-Nya yg penuh dosa ini.

Semoga, perpisahan ini menjadikanku sadar dan faham bahwa mencintai Allah harus lebih didahulukan daripada mencintai makhluk-Nya yg dicintai agar kecintaan ini membuahkan rasa cinta yg benar2 Allah cintai.
Menjadikan Allah sebagai satu-satunya tempat bergantung dan memohon pertolongan.

Teringat kisah para wanita hebat terdahulu. Bagaimana ketaatan dan cinta mereka pada Sang Rabb yg begitu besar. Maryam yg hamil dan melahirkan seorang diri, ditambah cemoohan masyarakat sekitarnya tanpa didampingi seorang suami. Bagaimana Siti Hajar yg harus terpisah jarak sengan suaminya dan membesarkan anaknya seorang diri di daerah tandus tak berpenghuni. Pantas saja, syurga menanti mereka.
Bagaimana denganku? Bermimpi ingin masuk surga seperti mereka, tapi, ujian tak seberat mereka aja masih suka mengeluh, merasa berat menjalani hari-hari. Astaghfirullah, Astaghfirullahal 'adziim.

Benar kata ustadz Oemar Mita, jika kita meng-zoom-out kan akhirat, maka ujian2 di dunia terasa kecil. Pun sebaliknya, jika kita meng-zoom-in kan akhirat, maka ujian2 di dunia terasa besar dan berat.
Maka zoom out kan akhirat dengan terus mengingat akhirat. Bagaimana kehidupan para org sholih di akhirat kelak, kenikmatan2 surga yg telah Allah janjikan. Agar kita menjalani hidup lebih ikhlas dan ringan, karena dunia hanyalah tempat menunggu sementara yg kelak akan menentukan tujuan akhir kita, yaitu akhirat.

Jatinangor, Oktober 2022.
Memulai episode LDM yg entah akan berakhir kapan.

Akankah?

Dikunjungi bu Eni (pengelola waktu SMP sekaligus kepala sekolah TK yg masih eksis selama belasan tahun), membuat semangat dan harapan yg dulu sempat padam, menyala kembali.


Rasanya diri ini gak se-strong, gak sengeyel, gak sebersemangat, gak seberani orang tua dulu.
Terlalu terbuai dengan kenyamanan hidup yg telah tersedia. Terlalu takut utk berkata, bermimpi, dan melangkah.

Sepertinya, memang harus dialokasikan waktu utk bersilaturrahmi dengan org2 yg idealis, yg memiliki visi-misi hidup yg jelas dan selalu bersemangat, lalu mengutarakan cita2 yg sdh lama terpendam.
Siapa tau, Allah bukakan jalan utk itu.

Seperti banyak temen orang tua yg aku kenal selama ini. Memberanikan diri utk melangkah, membuat lembaga pendidikan dengan target utama adalah amanah yg Allah titipkan kepada mereka (red: anak). Krn saat itu, lembaga pendidikan yg sesuai dengan visi-misi hidup mereka belum ada, yg banyak adalah lembaga pendidikan dengan visi-misi pemerintah saat itu.

Ketika anak mulai beranjak usia TK, memberanikan diri utk membuat TK. Tumbuh memasuki usia SD, dibuatlah SD, dan seterusnya. Agar apa? Agar visi-misi hidup orang tua tetap terjaga kepada anak keturunannya kelak.
Mereka pun sadar, mereka tdk selalu bisa mendidik anak2nya secara optimal krn memiliki banyak anak.
Yaaa, kebanyakan dr mereka memiliki anak banyak, ada yg 5, 6, 9, bahkan ada yg belasan.
Masyaa Allah.

Ini tamparan keras bagi diri, jangan pernah jadikan anak sebagai tameng atau excuse atas keegoisan diri yg malas utk melejit atau bahkan sekedar merangkak perlahan.
Bukankah dunia ini 'penjara' bagi hawa nafsu yg liar?
Bukankah dunia ini tempat utk berlelah, bergerak hingga jiwa ini benar2 letih?


Jatinangor, 1 Februari 2023
Setelah dikunjungi bu Eni dan sedikit berbagi cita.

Sabtu, 04 Maret 2023

Surat Cinta Ayah untuk Fathan

Untukmu anakku, Fathan Mubiynan Wisudawan.


Matahari masih malu2 menampakkan dirinya saat ayahmu buat tulisan ini. Hujan gerimis membasahi jalanan, payung yang ayah pakai berikut udara sekitar yang membuat dingin terasa menusuk tulang. Pagi ini ayah mau kejar bus pukul 6.15 nak, ternyata ayah terlambat 2 menit, ya... hanya 2 menit itu cukup untuk membuat ayah harus duduk termenung bergelut dengan dingin dan kesendirian di halte depan south mall, city center.

Nak, tahukah kamu kalau esok usiamu 3 tahun ?
apa arti 3 tahun buatmu ?
3 tahun yang lalu bundamu berjuang melahirkanmu nak, menyesap rasa sakit tak tertahankan dibalik sebuah harapan besar lahirnya anak sholeh yang kelak akan ayah beri nama fathan mubiynan wisudawan. Masih jelas terbayang wajah bundamu yang mengerang kesakitan, mengerahkan seluruh sisa tenaganya untuk keselamatanmu dan dirinya. Bahkan, ayah tak bisa menahan tangis yang meledak begitu saja melihat kejadian itu.

Nak, namamu ayah ambil dari al qur'an "innaa fatahna laka fathan mubiynan". sebuah ayat berita kemenangan dari Allah untuk nabinya tercinta sholallohu alaihi wa salam. Ayah berikan nama itu berikut nama belakang ayah untuk mengawali mimpi ayah, mimpi membangun dinasti islamiyah Wisudawaniyah. Saatnya nanti mungkin kau akan tertawa nak membaca tulisan ini, seperti tertawanya teman2 ayah dulu, seperti tertawanya semua orang yang mendengar mimpi ini. Tapi ingatlah nak, tidak ada 1000 tangga dapat dilalui jika tak pernah melangkah ke tangga pertama. tidak pernah gedung pencakar langit terwujud tanpa angan2 pembuatnya. Begitulah nak, ayah mungkin hanya bisa melangkah satu anak tangga, dan tangga berikutnya adalah tanggung jawabmu dan adik2mu serta anak2mu kelak.

Nak, bundamu ingin ayah buat puisi untukmu. Entah kenapa  ayah malah tulis curahan hati itu. nak, dengarkan bundamu :

Namaku fathan mubiynan wisudawan
Aku lahir dari rahim pejuang kemuliaan
Di dalam darahku mengalir darah perjuangan
Tidak ada yang aku takuti selain Allah yang Maha Rahman

Kemauanku kemauan raja2
Jiwaku jiwa merdeka
Aku tidak akan menghamba selain kepada Allah ta'ala
Cita2ku cita2 para nabi dan syuhada
Memperoleh surga yang kekal selamanya
Dan itulah kemenangan yang nyata.....


Salam cinta dan bangga ayah
Agro Wisudawan
Cork, 4 Maret 2020
1 hari menjelang 5 Maret 2020

Sabtu, 25 Februari 2023

Renungan Pernikahan

Suka terharu, merinding, dan pengen nangis kalau denger ijab kabul diucapkan.


Miitsaaqon gholiidzon, perjanjian yg agung, yg kuat, yg disaksikan oleh penduduk langit.
Perjanjian yg harus benar2 dijaga agar tdk putus dan hancur, agar syaiton dan jin tdk mendapatkan 'pahala besar' dr Iblis.

Gerbang awal kehidupan yg baru. Yg pastinya akan ada ujian2 yg akan dihadapi, yg Allah berikan sesuai dengan kapasitas kita masing2 sebagai bentuk rasa sayangNya pada kita.

Keluarga adalah sistem politik terendah dan sederhana. Suatu sistem atau peradaban akan sukses jika sistem atau peradaban kecil yg bernama keluarga pun sdh benar dan baik.
Baiknya sebuah keluarga sangat ditentukan oleh pribadi anggota keluarga tersebut.

Maka, diperlukan mental dan ilmu syari'at yg benar dalam membina bahtera rumah tangga agar menjadi rumah tangga yg sakinah mawaddah warohmah. Memahani peran, hak dan kewajiban sebagai suami, istri, anak, orang tua.

Karena saat ini banyak manusia yg menikah, hanya utk mengubah statusnya dr lajang atau hanya mengikuti keumuman yg berlaku di masyarakat atau agar memiliki ketutunan dengan tujuan supaya di hari tuanya ada yg menemani, tanpa memiliki visi-misi akhirat, tanpa menyematkan setiap aktivitasnya adalah bentuk ibadah hanya utk Allah semata, semua dilakukan sebagai bentuk rutinitas semata.

Bahkan mereka lupa peran, hak dan kewajibannya masing2. Maka tak heran banyak suami yg hanya memikirkan kerja sebagai dalih utk menafkahi keluarganya secara finansial, tp dia lupa utk menjaga keluarganya dr api neraka. Paham kapitalisme dan materialisme yg sdh menjalar secara tak sadar mulai mengakar dalam kehidupan manusia.
Ada juga istri yg merasa terkekang ketika harus berada di dalam rumah, merasa penat ketika harus membersamai dan mendidik anak2nya. Paham feminisme telah menghancurkan pikiran dan hatinya. Dia ingin merasakan pula 'kebebasan' seperti suaminya. Sampai lupa akan tugas dan tanggung jawabnya sebagai istri dan ibu.
Semua itu terjadi karena suami dan istri tdk memahami peran, hak dan kewajibannya masing2 sesuai syari'at Islam dengan menyeluruh, baik, dan benar.

Padahal, Islam sdh mengatur semuanya secara sempurna dan seimbang. Tinggal kitanya, mau mempelajarinya atau tdk.

Jatinangor, 11 Desember 2022.
Setelah menghadiri pernikahan tetangga yg juga satu almamater.

Sabtu, 18 Februari 2023

Episode Kehidupan Anak Keempat: Hai Rosikh, Anak Bongsor yg Kalem dan Diam-Diam Menghanyutkan

Hari ini, kau tampak lemah, lesu, dan sensitif. Pusing yaa nak? Serba gak enak?Matamu sayu dan tubuhmu panas. Maafkan bunda yg belum bisa selalu mendampingi dan membersamaimu. Tapi tenang saja nak, ada Allah yg selalu bersamamu, bersama kita, Allahu ma'anaa. Di kala manusia tdk bisa menemani setiap saat, Allah akan tetap ada, selalu setia menjaga. Maka nak, berusahalah menjadi hamba/budaknya Allah yg taat, yg selalu menyenangi hati 'majikannya' agar Dia ridho terhadap dirimu.

Jika sakit, bersabarlah. Berdo'a dan mohonlah kesembuhan kepada Yang Maha Menyembuhkan.


Di tanggal ini, 18 Februari, tepat 2 tahun lalu, kau lahir ke dunia, wahai Rosikh, anak bunda yg paling bongsor. Bunda jadi flashback masa2 itu.
Alhamdulillah, Allah mengabulkan do'a dan harapan bunda, agar ayahmu bisa menemani bunda melewati proses episode perdanamu ke dunia, bisa meilhatmu terlahir dan hadir di bumi Allah yg penuh dengan ujian ini.

Qodarullah, semua proses administrasi ayah selesai di akhir Januari (kalau tdk salah) dan ayah langsung mencari-memesan tiket pulang. Walaupun sempat ada kendala dan sedikit masalah ketika proses pulang ke Indonesia, Alhamdulillah setelah itu semuanya berjalan lancar. Melakukan perjalanan di masa pandemi dengan kebijakan yg terus berubah, dinamis, membuat para pelaku perjalanan harus lebih sabar dan sesering mungkin update terkait kebijakan2 yg berlaku di negara tujuan.
Alhamdulillah, Ayah sampai di Indonesia dengan selamat. Walaupun hasil tes (tes covid 19) ayah negatif, ayah tetap harus dikarantina di hotel yg sdh disediakan pemerintah selama beberapa hari.

Singkat cerita, di hari Ahad, 14 Februari 2021, kita menjemput ayah di hotel Sahid. Alhamdulillah, akhirnya kita bisa bertemu kembali, berkumpul bersama, bercengkrama dan saling melepas rindu.

4 hari kemudian, bunda mulai merasakan gelombang cinta darimu. Langsung saja, ayah dan bunda segera meluncur ke bidan Erna, rencana temapat bunda akan melahirkanmu, tempat di mana Mba Hanin pun dilahirkan 1 tahun yg lalu. Sesampainya di sana, ternyata baru bukaan 2 dan bidan Erna meminta surat keterangan tes covid sebagai salah satu persyaratan administrasi jika ketika proses persalinan nanti tdk berjalan normal dan harus dirujuk ke rumah sakit. Maka, ayah mengantarkan bunda ke Klinik Padjadjaran utk melakukan tes covid. Alhamdulillah, hasilnya negatif. Sempat harap2 cemas krn kondisi tubuh bunda saat itu tdk terlalu fit dan sedang batuk pilek.

Sore harinya, getaran cinta darimu semakin besar dan semakin sering. Bunda memastikan kembali apa saja yg harus dibawa. Setelah semuanya ok, ayah dan bunda berpamitan dengan kakak2mu yg sangat senang dan sdh tdk sabar ingin bertemu denganmu, menambah riuhnya keluarga Wisudawan di rumah. Kemudian, ayah dengan sigap mengantarkan bunda ke bidan Erna.

Sesampainya di sana, kontraksi yg terjadi tdk pernah berhenti, mules yg luar biasa terus menerus menghampiri, rasanya tdk ada jeda utk mengambil nafas. Jalan pun tertatih, hanya Allah Yang Maha Kuat dan Maha Mengatur, yg memerintahkan kaki ini agar tetap kuat menopang tubuh dan mampu melangkah. Ayahmu, dengan penuh kesabaran, memapah bunda agar bisa sampai di ruang persalinan dan membantu bunda utk bisa naik ke atas tempat persalinan.
Karena rasa mules yg terus menerus hadir, bidan tdk bisa mengecek pembukaan dan mengontrol detak jantung bayi. Sampai akhirnya adzan maghrib berkumandang. Ayah yg saat itu sedang berpuasa hanya bisa berbuka dengan sedikit makanan dan minum lalu segera sholat dan membersamai bunda kembali.
Kontraksi, mules, dan sakit yg dirasa semakin hebat, hasrat utk mengejan seperti sdh diubun-ubun. Yg bunda bisa lakukan hanya berdo'a, menguatkan diri, dan mensugesti pikiran "upi, kuat! Jangan mengejan! Tahan, kuat, kuat".
Mencari2 posisi yg cukup nyaman.

Hingga akhirnya, bunda hampir menyerah, tdk kuat lagi utk menahan. Ayah lantas memanggil bidan Erna, beliau yg baru selesai sholat segera menyahut. Dengan gesit dan tenang, beliau siapkan semuanya. Tdk butuh waktu lama, akhirnya kau lahir dengan suara tangisan yg nyaring dan keras, saking kerasnya, sempat terbesit dalam benak ayah utk menamaimu Abbas 😁.

Hai Rosikh, anak ayah-bunda yg Allah karuniai tandak cinta dari-Nya di pipi kirimu, menambah manis paras wajahmu yg ganteng dan Allah ciptakan begitu sempurna. Kau lahir dengan berat tubuh 4.2 kg dan panjang 52 cm, sempat membuat bu bidan kaget dan menimbang kembali berat tubuhmu utk kedua kalinya. Beliau berkata, "masyaa Allah, ini bayi dengan berat badan yg paling besar yg pernah saya tangani" 😊

Masyaa Allah, barakallah Rosikh, sang anak kalem yg diam2 menghanyutkan. Yg sempat membuat mbah utimu khawatir krn diammu, yg belum mau berkata2 di usia 1 tahun lebih.
Do'a bunda sama seperti do'a bunda utk mba Hanin, tumbuhlah menjadi anak yg bahagia, menjadi qurrotun 'ayun ayah-bunda.
Bermetamorfosislah menjadi org sholih yg mushlih, mukmin-muttaqin, pejuang Allah yg menegakkan syari'at-syari'atNya, suami yg selalu terjaga qowwamnya, ayah teladan bagi anak2mu kelak.

Salam hangat penuh cinta dr ayah-bunda 💕

Jatinangor, 18 Februari 2023

Selasa, 14 Februari 2023

Episode Kehidupan Anak Ketiga: Kini, Kau Genap 2 tahun

Hari ini, tepat 2 tahun lalu kau lahir ke dunia.

Persalinan yg paling tenang, yg pernah bunda rasakan, dengan segala perjuangannya.
Ayah yg tdk bisa menemani proses persalinanmu, digantikan oleh nenek (ummi) yg saat itu masih sangat lemah krn baru keluar dr rumah sakit, setelah hampir sepekan dirawat akibat stroke ringan. Abah (abi) yg sebelumnya selalu menemani nenek di rumah sakit, dengan penuh pengorbanan, masih harus berjuang, rela utk tdk bisa tidur dengan nyaman krn harus menemani Fathan dan Ajron di rumah bersama ami Ucup (Yusuf).

Allah sangat berkuasa atas segala sesuatu. H-1 melahirkan belum menentukan mau lahiran di mana krn kami baru pindah ke Jatinangor. Qodarullah, tetangga berkunjung ke rumah utk menengok ummi dan berkata bahwa di sekitar jalan Caringin (cuma 5 menit dr sini) ada seorang bidan, tempatnya nyaman, bidannya baik. Anaknya beliau beberapa bulan lalu pun melahirkan di sana.

Esok harinya, saat kontraksi mulai muncul, abah dengan sigap (hujan pun dihadang), mencari rumah bu bidan yg dituju. Alhamdulillah, rumahnya ketemu dan malam hari setelah sholat Maghrib, bunda dan nenek meluncur ke sana diantar oleh Om Ibay (Iqbal).

Proses mules berlangasung sebagaimana mules saat kontrasi hendak melahirkan. Semua proses itu dilalui sebagaimana mestinya. Bunda bisa atur nafas dengan sangat baik, perut cukup terisi asupan makanan, tenaga pun dikelola dengan sangat apik, selalu bersyukur setiap rasa sakit melanda, lantunan ayat suci Al-Quran yg diputar membuat hati begitu tenang.
Sampai akhirnya, bidan berkata sdh pembukaan 10 dan bunda boleh mengedan saat mulai terasa mules. Rasa mules pun kembali hadir lalu bunda ambil nafas dan ngeden sekuat tenaga. Alhamdulillah dirimu hadir dan bunda bisa melihat dengan cukup jelas bagaimana kamu keluar dr perut. Suara nyaringmu membuat hati bunda lega.
Masyaa Allah, baru kali ini bunda merasakan proses persalinan yg tenang dan syahdu.
Alhamdulillah, Alhamdulillah. Allah Maha Kuasa. Maha Sempurna. Ar-Rahmaan, Ar-Rahiim.

Nenek yg selalu berusaha utk kuat, penuh perjuangan agar bisa berdiri cukup lama, menggendongmu, mengadzani dan mentahnikmu. Bahkan di jam2 malam setelah kau lahir, nenek selalu berusaha utk mengganti popokmu ketika BAK atau BAB, berusaha sekuat tenaga menggendongmu menuju bunda utk disusui. Jangan sampai bunda turun dr kasur. Biarkan nenek saja yg mondar-mandir, padahal tubuhnya masih cukup kaku utk digerakkan.

Ayahmu yg pastinya harap-harap cemas, menanti kehadiran anak perempuan pertamanya. Dengan penuh kesabaran dan keikhlasan, selalu mendo'akanmu di belahan bumi Allah lainnya. Berjuang dengan kesendirian dan kesepiannya di dinginnya kota Cork, Irlandia.

Dengan bertambah angka usiamu, maka jatah hidupmu di dunia semakin berkurang. Tumbuhlah menjadi anak yg bahagia, qurrota a'yun bagi ayah-bunda, bermetamorfosislah menjadi wanita sholihah yg Allah ridho atasmu, istri sholihah yg menyenangkan hati suamimu kelak, dan ibu teladan bagi anak2mu.

Salam cinta dan sayang yg begitu hangat dari ayah-bunda 💕

Ditulis: Madiun, 24 januari 2022.

Minggu, 12 Februari 2023

Episode Kehidupan Perdana Anak Kelima

Setiap anak memiliki episode kehidupannya masing-masing..

Kali ini mengenai episode kehidupan sang anak nomor lima.
Masyaa Allah, Masyaa Allah, Masyaa Allah. Itulah kata2 yg selalu terucap,
Alhamdulillah, Alhamdulillah.. Allah Maha Mengetahui, Maha Berkehendak..

Tepat sehari sebelum gelombang cinta itu muncul, bidan di suatu klinik tempat rencana melahirkan menyatakan bahwa di klinik tersebut tdk dapat menerima persalinan yg akan aku hadapi.
Aku pun lantas bertanya: "kenapa tdk bisa?"
Jawabnya, karena kehamilanku merupakan kehamilan kelima dengan jarak hamil yg berdekatan. Dalam kebijakan kesehatan sekarang, ini termasuk ke dalam resiko persalinan yg besar, khawatir terjadi pendarahan, dll..
Bidan tdk bisa mengambil tindakan, harus melalui dokter kandungan. Daan Qodarullah, di klinik itu hanya ada dokter kandungan laki-laki.

Padahal saat kontrol sebelumnya, tdk ada masalah apa pun. Bidan yg mengontrolku saat itu tdk pernah membicarakan hal ini, walaupun dia mengetahui riwayat kehamilanku sebelumnya.
Dia berkata: "nanti ibu tinggal datang aja, langsung ke IGD, gak ush daftar atau urus administrasi dulu".

Sepulang dr kontrol. Mulai mencari2 informasi mengenai bidan atau rumah sakit yg akan menjadi target tempat persalinan nanti dan mengoordinasikannya dengan pak suami yg berada di belahan bumi lain.

Qodarullah, tengah malam mendapat 2 jawaban dr org (yg pastinya Allah pilih utk membalas chatku hari itu). Pertama dari Mba Sakinah, yg sama2 sedang hamil, dan kedua dr Risa (adik iparku)..
Alhamdulillah, sdh ada target tempat persalinan walaupun belum pernah survey atau kontrol sekalipun.

Hari Selasa, tgl 29 November 2022, tepatnya di waktu subuh. Gelombang cinta itu mulai muncul, tp masih ringan dan sangat jarang. Kupikir itu karena mules biasa, seperti ingin BAB..
Lanjut di pagi harinya, gelombang cinta itu mulai menaikkan getarannya dengan frekuensi yg cukup sering.
Saat itu masih berpikir, apakah hr ini waktunya?
Aku tepis pikiran2 itu dengan mengurus anak2 di pagi hari, seperti biasanya.
Krn sejujurnya diri ini belum siap, aku masih berharap proses kontraksi dan persalinan terjadi di sore atau malam hari, di mana pak suami sdh bangun dan terjaga. Aku masih berharap, bisa ditemani dan disemangati oleh ayahnya anak2 walaupun secara virtual. Yaa, manusia cuma bisa berencana dan berharap, entah itu rencana dan harapannya baik menurut Allah atau tidak.

Tetapi, semakin ke sini, getaran itu semakin terasa..
Bismillah, mulai merubah mindset, atur pikiran utk "Aku siap jika hari ini adalah waktunya". Buang jauh-jauh harapan-rencana-angan2 semu, ikhlas dan ridho atas rencana Allah, gantungkan semuanya hanya kepada Allah saja.
Berusaha utk terus berpikir positif, selalu ingat Allah, berdo'a, berdo'a, dan berdo'a.

Sembari memainkan dan mengatur pikiran, tangan dan kaki mulai menyiapkan segala keperluan yg hendak dibutuhkan.
Pulang ke rumah utk mengambil semua barang yg akan dibawa, cek kondisi rumah dan berbenah sebentar.
Kembali ke rumah abi dengan perlahan2, beberapa kali berhenti sejenak utk mengatur nafas sambil terus berdo'a semoga ketubannya belum pecah. Ada Allah Al-qowiyyu, Yg Maha Kuat. Allah As-Salaam, Yg Maha Menolong.

Alhamdulillah, hari ini ada Ibrahim yg stand by di rumahnya. Jadilah dia bisa mengantarkanku ke bidan Trisna (bidan yg menjadi target tempat persalinan atas rekomendasi Mba Sakinah) krn jaraknya yg cukup dekat. Hanya bermodalkan maps yg dishare Mba Sakinah, Alhamdulillah Allah berikan jalan yg lancar tanpa macet dan tersesat.
Sebelum berangkat pun, aku sempat chat bidan Trisna, Alhamdulillah beliau ada dan bisa stand by.

Selama di mobil, rasa mules-gelombang-getaran-gejolak cinta dr sang buah hati semakin dahsyat dan sering. Terus berdo'a, mengontrol pikiran, beristighfar, memohon kepada Allah semoga setiap sakit yg aku rasakan ini Allah ridhoi dan menjadi penggugur dosa-dosaku yang masyaa Allah tak terhitung jumlahnya 😭

Setibanya di Bidan Trisna, aku menceritakan apa yg dikatakan bidan di klinik sebelumnya.
Beliau berkata: "Ayo naik, diperiksa dulu yaa, neng".
"Ya Allah, udh bukaan lengkap!", serunya agak panik. Beliau mulai telepon teman2nya, adakah yg  bisa membantunya. Disamping itu, sibuk pula menyiapkan peralatan. Namun masih bisa bersikap tenang tetapi gesit.

Tidak ada waktu lagi. Alhasil, aku tdk dipindahkan ke ruang persalinan krn memang kondisi yg tdk memungkinkan. Pantas saja, rasanya sedari tadi hasrat ingin mengejan tak tertahankan, tp belajar dr pengalaman persalinan pertama utk tdk mengejan sebelum ada aba2 dr bidan.

Ketika semua sdh siap, aku minta bu bidan utk pecahkan saja ketubannya karena sdh tdk kuat. Daaaannnn, proses persalinan pun berlangsung. Ternyata hanya butuh waktu 10-15 menit saja utk melakukan proses persalinan anak kelima ini (walaupun, kalau dirasa, bagaikan berjam-jam).
Alhamdulillah, Alhamdulillah, lahirlah ke dunia anak kelima kami dengan sehat dan selamat.
Daan, ini adalah persalinan pertama tanpa jahitan 😊. Biasanya selalu diobras...

Selesai persalinan, bidan trisna selalu berucap. Ini seperti buah simalakama, kalau tdk saya tolong bagaimana, sdh bukaan lengkap. Bismillah saja yaa, berpikir positif terus.

Ternyata, bidan Trisna pun kaget, ketika aku ceritakan alasan bidan klinik tdk bisa bersalin di sana. Mau dirujuk tp sdh bukaan lengkap, nanti brojol di jalan lebih beresiko.
Bismillah, akhirnya beliau mau menerima persalinan ini dengan rasa campur aduk.
Berulang kali beliau cerita ke teman2nya yg ditelepon atau yg sdh dtg utk membantu, kalau beliau ini "gemper" dengan persalinan ini. Maaf yaa bu 😊.
Yakin, pasti Allah yg menggerakkan semuanya.

Masyaa Allah, jika kita menggantungkan semuanya hanya kepada Allah, rasanya hati menjadi lebih tenang. Percayalah, Allah selalu ada utk kita, menolong kita, memberikan jalan-jalan terbaik-Nya bagi kehidupan kita.
Dialah Ar-Rahmaan bagi seluruh makhluk ciptaan-Nya.

Ditulis: 29 November 2022, siang hari menjelang sore yg sepi. Hanya ditemani sosok mungil yg benar2 tak berdaya, hari perdana dia menghirup udara dunia.

Menjaga Hati

Hanya sekedar unek-unek dalam hati yang semoga bisa terus menjadi reminder bagi diri. Beberapa hari lalu sempat chattingan sama kakak kelas...