Sabtu, 25 Februari 2023

Renungan Pernikahan

Suka terharu, merinding, dan pengen nangis kalau denger ijab kabul diucapkan.


Miitsaaqon gholiidzon, perjanjian yg agung, yg kuat, yg disaksikan oleh penduduk langit.
Perjanjian yg harus benar2 dijaga agar tdk putus dan hancur, agar syaiton dan jin tdk mendapatkan 'pahala besar' dr Iblis.

Gerbang awal kehidupan yg baru. Yg pastinya akan ada ujian2 yg akan dihadapi, yg Allah berikan sesuai dengan kapasitas kita masing2 sebagai bentuk rasa sayangNya pada kita.

Keluarga adalah sistem politik terendah dan sederhana. Suatu sistem atau peradaban akan sukses jika sistem atau peradaban kecil yg bernama keluarga pun sdh benar dan baik.
Baiknya sebuah keluarga sangat ditentukan oleh pribadi anggota keluarga tersebut.

Maka, diperlukan mental dan ilmu syari'at yg benar dalam membina bahtera rumah tangga agar menjadi rumah tangga yg sakinah mawaddah warohmah. Memahani peran, hak dan kewajiban sebagai suami, istri, anak, orang tua.

Karena saat ini banyak manusia yg menikah, hanya utk mengubah statusnya dr lajang atau hanya mengikuti keumuman yg berlaku di masyarakat atau agar memiliki ketutunan dengan tujuan supaya di hari tuanya ada yg menemani, tanpa memiliki visi-misi akhirat, tanpa menyematkan setiap aktivitasnya adalah bentuk ibadah hanya utk Allah semata, semua dilakukan sebagai bentuk rutinitas semata.

Bahkan mereka lupa peran, hak dan kewajibannya masing2. Maka tak heran banyak suami yg hanya memikirkan kerja sebagai dalih utk menafkahi keluarganya secara finansial, tp dia lupa utk menjaga keluarganya dr api neraka. Paham kapitalisme dan materialisme yg sdh menjalar secara tak sadar mulai mengakar dalam kehidupan manusia.
Ada juga istri yg merasa terkekang ketika harus berada di dalam rumah, merasa penat ketika harus membersamai dan mendidik anak2nya. Paham feminisme telah menghancurkan pikiran dan hatinya. Dia ingin merasakan pula 'kebebasan' seperti suaminya. Sampai lupa akan tugas dan tanggung jawabnya sebagai istri dan ibu.
Semua itu terjadi karena suami dan istri tdk memahami peran, hak dan kewajibannya masing2 sesuai syari'at Islam dengan menyeluruh, baik, dan benar.

Padahal, Islam sdh mengatur semuanya secara sempurna dan seimbang. Tinggal kitanya, mau mempelajarinya atau tdk.

Jatinangor, 11 Desember 2022.
Setelah menghadiri pernikahan tetangga yg juga satu almamater.

Sabtu, 18 Februari 2023

Episode Kehidupan Anak Keempat: Hai Rosikh, Anak Bongsor yg Kalem dan Diam-Diam Menghanyutkan

Hari ini, kau tampak lemah, lesu, dan sensitif. Pusing yaa nak? Serba gak enak?Matamu sayu dan tubuhmu panas. Maafkan bunda yg belum bisa selalu mendampingi dan membersamaimu. Tapi tenang saja nak, ada Allah yg selalu bersamamu, bersama kita, Allahu ma'anaa. Di kala manusia tdk bisa menemani setiap saat, Allah akan tetap ada, selalu setia menjaga. Maka nak, berusahalah menjadi hamba/budaknya Allah yg taat, yg selalu menyenangi hati 'majikannya' agar Dia ridho terhadap dirimu.

Jika sakit, bersabarlah. Berdo'a dan mohonlah kesembuhan kepada Yang Maha Menyembuhkan.


Di tanggal ini, 18 Februari, tepat 2 tahun lalu, kau lahir ke dunia, wahai Rosikh, anak bunda yg paling bongsor. Bunda jadi flashback masa2 itu.
Alhamdulillah, Allah mengabulkan do'a dan harapan bunda, agar ayahmu bisa menemani bunda melewati proses episode perdanamu ke dunia, bisa meilhatmu terlahir dan hadir di bumi Allah yg penuh dengan ujian ini.

Qodarullah, semua proses administrasi ayah selesai di akhir Januari (kalau tdk salah) dan ayah langsung mencari-memesan tiket pulang. Walaupun sempat ada kendala dan sedikit masalah ketika proses pulang ke Indonesia, Alhamdulillah setelah itu semuanya berjalan lancar. Melakukan perjalanan di masa pandemi dengan kebijakan yg terus berubah, dinamis, membuat para pelaku perjalanan harus lebih sabar dan sesering mungkin update terkait kebijakan2 yg berlaku di negara tujuan.
Alhamdulillah, Ayah sampai di Indonesia dengan selamat. Walaupun hasil tes (tes covid 19) ayah negatif, ayah tetap harus dikarantina di hotel yg sdh disediakan pemerintah selama beberapa hari.

Singkat cerita, di hari Ahad, 14 Februari 2021, kita menjemput ayah di hotel Sahid. Alhamdulillah, akhirnya kita bisa bertemu kembali, berkumpul bersama, bercengkrama dan saling melepas rindu.

4 hari kemudian, bunda mulai merasakan gelombang cinta darimu. Langsung saja, ayah dan bunda segera meluncur ke bidan Erna, rencana temapat bunda akan melahirkanmu, tempat di mana Mba Hanin pun dilahirkan 1 tahun yg lalu. Sesampainya di sana, ternyata baru bukaan 2 dan bidan Erna meminta surat keterangan tes covid sebagai salah satu persyaratan administrasi jika ketika proses persalinan nanti tdk berjalan normal dan harus dirujuk ke rumah sakit. Maka, ayah mengantarkan bunda ke Klinik Padjadjaran utk melakukan tes covid. Alhamdulillah, hasilnya negatif. Sempat harap2 cemas krn kondisi tubuh bunda saat itu tdk terlalu fit dan sedang batuk pilek.

Sore harinya, getaran cinta darimu semakin besar dan semakin sering. Bunda memastikan kembali apa saja yg harus dibawa. Setelah semuanya ok, ayah dan bunda berpamitan dengan kakak2mu yg sangat senang dan sdh tdk sabar ingin bertemu denganmu, menambah riuhnya keluarga Wisudawan di rumah. Kemudian, ayah dengan sigap mengantarkan bunda ke bidan Erna.

Sesampainya di sana, kontraksi yg terjadi tdk pernah berhenti, mules yg luar biasa terus menerus menghampiri, rasanya tdk ada jeda utk mengambil nafas. Jalan pun tertatih, hanya Allah Yang Maha Kuat dan Maha Mengatur, yg memerintahkan kaki ini agar tetap kuat menopang tubuh dan mampu melangkah. Ayahmu, dengan penuh kesabaran, memapah bunda agar bisa sampai di ruang persalinan dan membantu bunda utk bisa naik ke atas tempat persalinan.
Karena rasa mules yg terus menerus hadir, bidan tdk bisa mengecek pembukaan dan mengontrol detak jantung bayi. Sampai akhirnya adzan maghrib berkumandang. Ayah yg saat itu sedang berpuasa hanya bisa berbuka dengan sedikit makanan dan minum lalu segera sholat dan membersamai bunda kembali.
Kontraksi, mules, dan sakit yg dirasa semakin hebat, hasrat utk mengejan seperti sdh diubun-ubun. Yg bunda bisa lakukan hanya berdo'a, menguatkan diri, dan mensugesti pikiran "upi, kuat! Jangan mengejan! Tahan, kuat, kuat".
Mencari2 posisi yg cukup nyaman.

Hingga akhirnya, bunda hampir menyerah, tdk kuat lagi utk menahan. Ayah lantas memanggil bidan Erna, beliau yg baru selesai sholat segera menyahut. Dengan gesit dan tenang, beliau siapkan semuanya. Tdk butuh waktu lama, akhirnya kau lahir dengan suara tangisan yg nyaring dan keras, saking kerasnya, sempat terbesit dalam benak ayah utk menamaimu Abbas 😁.

Hai Rosikh, anak ayah-bunda yg Allah karuniai tandak cinta dari-Nya di pipi kirimu, menambah manis paras wajahmu yg ganteng dan Allah ciptakan begitu sempurna. Kau lahir dengan berat tubuh 4.2 kg dan panjang 52 cm, sempat membuat bu bidan kaget dan menimbang kembali berat tubuhmu utk kedua kalinya. Beliau berkata, "masyaa Allah, ini bayi dengan berat badan yg paling besar yg pernah saya tangani" 😊

Masyaa Allah, barakallah Rosikh, sang anak kalem yg diam2 menghanyutkan. Yg sempat membuat mbah utimu khawatir krn diammu, yg belum mau berkata2 di usia 1 tahun lebih.
Do'a bunda sama seperti do'a bunda utk mba Hanin, tumbuhlah menjadi anak yg bahagia, menjadi qurrotun 'ayun ayah-bunda.
Bermetamorfosislah menjadi org sholih yg mushlih, mukmin-muttaqin, pejuang Allah yg menegakkan syari'at-syari'atNya, suami yg selalu terjaga qowwamnya, ayah teladan bagi anak2mu kelak.

Salam hangat penuh cinta dr ayah-bunda 💕

Jatinangor, 18 Februari 2023

Selasa, 14 Februari 2023

Episode Kehidupan Anak Ketiga: Kini, Kau Genap 2 tahun

Hari ini, tepat 2 tahun lalu kau lahir ke dunia.

Persalinan yg paling tenang, yg pernah bunda rasakan, dengan segala perjuangannya.
Ayah yg tdk bisa menemani proses persalinanmu, digantikan oleh nenek (ummi) yg saat itu masih sangat lemah krn baru keluar dr rumah sakit, setelah hampir sepekan dirawat akibat stroke ringan. Abah (abi) yg sebelumnya selalu menemani nenek di rumah sakit, dengan penuh pengorbanan, masih harus berjuang, rela utk tdk bisa tidur dengan nyaman krn harus menemani Fathan dan Ajron di rumah bersama ami Ucup (Yusuf).

Allah sangat berkuasa atas segala sesuatu. H-1 melahirkan belum menentukan mau lahiran di mana krn kami baru pindah ke Jatinangor. Qodarullah, tetangga berkunjung ke rumah utk menengok ummi dan berkata bahwa di sekitar jalan Caringin (cuma 5 menit dr sini) ada seorang bidan, tempatnya nyaman, bidannya baik. Anaknya beliau beberapa bulan lalu pun melahirkan di sana.

Esok harinya, saat kontraksi mulai muncul, abah dengan sigap (hujan pun dihadang), mencari rumah bu bidan yg dituju. Alhamdulillah, rumahnya ketemu dan malam hari setelah sholat Maghrib, bunda dan nenek meluncur ke sana diantar oleh Om Ibay (Iqbal).

Proses mules berlangasung sebagaimana mules saat kontrasi hendak melahirkan. Semua proses itu dilalui sebagaimana mestinya. Bunda bisa atur nafas dengan sangat baik, perut cukup terisi asupan makanan, tenaga pun dikelola dengan sangat apik, selalu bersyukur setiap rasa sakit melanda, lantunan ayat suci Al-Quran yg diputar membuat hati begitu tenang.
Sampai akhirnya, bidan berkata sdh pembukaan 10 dan bunda boleh mengedan saat mulai terasa mules. Rasa mules pun kembali hadir lalu bunda ambil nafas dan ngeden sekuat tenaga. Alhamdulillah dirimu hadir dan bunda bisa melihat dengan cukup jelas bagaimana kamu keluar dr perut. Suara nyaringmu membuat hati bunda lega.
Masyaa Allah, baru kali ini bunda merasakan proses persalinan yg tenang dan syahdu.
Alhamdulillah, Alhamdulillah. Allah Maha Kuasa. Maha Sempurna. Ar-Rahmaan, Ar-Rahiim.

Nenek yg selalu berusaha utk kuat, penuh perjuangan agar bisa berdiri cukup lama, menggendongmu, mengadzani dan mentahnikmu. Bahkan di jam2 malam setelah kau lahir, nenek selalu berusaha utk mengganti popokmu ketika BAK atau BAB, berusaha sekuat tenaga menggendongmu menuju bunda utk disusui. Jangan sampai bunda turun dr kasur. Biarkan nenek saja yg mondar-mandir, padahal tubuhnya masih cukup kaku utk digerakkan.

Ayahmu yg pastinya harap-harap cemas, menanti kehadiran anak perempuan pertamanya. Dengan penuh kesabaran dan keikhlasan, selalu mendo'akanmu di belahan bumi Allah lainnya. Berjuang dengan kesendirian dan kesepiannya di dinginnya kota Cork, Irlandia.

Dengan bertambah angka usiamu, maka jatah hidupmu di dunia semakin berkurang. Tumbuhlah menjadi anak yg bahagia, qurrota a'yun bagi ayah-bunda, bermetamorfosislah menjadi wanita sholihah yg Allah ridho atasmu, istri sholihah yg menyenangkan hati suamimu kelak, dan ibu teladan bagi anak2mu.

Salam cinta dan sayang yg begitu hangat dari ayah-bunda 💕

Ditulis: Madiun, 24 januari 2022.

Minggu, 12 Februari 2023

Episode Kehidupan Perdana Anak Kelima

Setiap anak memiliki episode kehidupannya masing-masing..

Kali ini mengenai episode kehidupan sang anak nomor lima.
Masyaa Allah, Masyaa Allah, Masyaa Allah. Itulah kata2 yg selalu terucap,
Alhamdulillah, Alhamdulillah.. Allah Maha Mengetahui, Maha Berkehendak..

Tepat sehari sebelum gelombang cinta itu muncul, bidan di suatu klinik tempat rencana melahirkan menyatakan bahwa di klinik tersebut tdk dapat menerima persalinan yg akan aku hadapi.
Aku pun lantas bertanya: "kenapa tdk bisa?"
Jawabnya, karena kehamilanku merupakan kehamilan kelima dengan jarak hamil yg berdekatan. Dalam kebijakan kesehatan sekarang, ini termasuk ke dalam resiko persalinan yg besar, khawatir terjadi pendarahan, dll..
Bidan tdk bisa mengambil tindakan, harus melalui dokter kandungan. Daan Qodarullah, di klinik itu hanya ada dokter kandungan laki-laki.

Padahal saat kontrol sebelumnya, tdk ada masalah apa pun. Bidan yg mengontrolku saat itu tdk pernah membicarakan hal ini, walaupun dia mengetahui riwayat kehamilanku sebelumnya.
Dia berkata: "nanti ibu tinggal datang aja, langsung ke IGD, gak ush daftar atau urus administrasi dulu".

Sepulang dr kontrol. Mulai mencari2 informasi mengenai bidan atau rumah sakit yg akan menjadi target tempat persalinan nanti dan mengoordinasikannya dengan pak suami yg berada di belahan bumi lain.

Qodarullah, tengah malam mendapat 2 jawaban dr org (yg pastinya Allah pilih utk membalas chatku hari itu). Pertama dari Mba Sakinah, yg sama2 sedang hamil, dan kedua dr Risa (adik iparku)..
Alhamdulillah, sdh ada target tempat persalinan walaupun belum pernah survey atau kontrol sekalipun.

Hari Selasa, tgl 29 November 2022, tepatnya di waktu subuh. Gelombang cinta itu mulai muncul, tp masih ringan dan sangat jarang. Kupikir itu karena mules biasa, seperti ingin BAB..
Lanjut di pagi harinya, gelombang cinta itu mulai menaikkan getarannya dengan frekuensi yg cukup sering.
Saat itu masih berpikir, apakah hr ini waktunya?
Aku tepis pikiran2 itu dengan mengurus anak2 di pagi hari, seperti biasanya.
Krn sejujurnya diri ini belum siap, aku masih berharap proses kontraksi dan persalinan terjadi di sore atau malam hari, di mana pak suami sdh bangun dan terjaga. Aku masih berharap, bisa ditemani dan disemangati oleh ayahnya anak2 walaupun secara virtual. Yaa, manusia cuma bisa berencana dan berharap, entah itu rencana dan harapannya baik menurut Allah atau tidak.

Tetapi, semakin ke sini, getaran itu semakin terasa..
Bismillah, mulai merubah mindset, atur pikiran utk "Aku siap jika hari ini adalah waktunya". Buang jauh-jauh harapan-rencana-angan2 semu, ikhlas dan ridho atas rencana Allah, gantungkan semuanya hanya kepada Allah saja.
Berusaha utk terus berpikir positif, selalu ingat Allah, berdo'a, berdo'a, dan berdo'a.

Sembari memainkan dan mengatur pikiran, tangan dan kaki mulai menyiapkan segala keperluan yg hendak dibutuhkan.
Pulang ke rumah utk mengambil semua barang yg akan dibawa, cek kondisi rumah dan berbenah sebentar.
Kembali ke rumah abi dengan perlahan2, beberapa kali berhenti sejenak utk mengatur nafas sambil terus berdo'a semoga ketubannya belum pecah. Ada Allah Al-qowiyyu, Yg Maha Kuat. Allah As-Salaam, Yg Maha Menolong.

Alhamdulillah, hari ini ada Ibrahim yg stand by di rumahnya. Jadilah dia bisa mengantarkanku ke bidan Trisna (bidan yg menjadi target tempat persalinan atas rekomendasi Mba Sakinah) krn jaraknya yg cukup dekat. Hanya bermodalkan maps yg dishare Mba Sakinah, Alhamdulillah Allah berikan jalan yg lancar tanpa macet dan tersesat.
Sebelum berangkat pun, aku sempat chat bidan Trisna, Alhamdulillah beliau ada dan bisa stand by.

Selama di mobil, rasa mules-gelombang-getaran-gejolak cinta dr sang buah hati semakin dahsyat dan sering. Terus berdo'a, mengontrol pikiran, beristighfar, memohon kepada Allah semoga setiap sakit yg aku rasakan ini Allah ridhoi dan menjadi penggugur dosa-dosaku yang masyaa Allah tak terhitung jumlahnya 😭

Setibanya di Bidan Trisna, aku menceritakan apa yg dikatakan bidan di klinik sebelumnya.
Beliau berkata: "Ayo naik, diperiksa dulu yaa, neng".
"Ya Allah, udh bukaan lengkap!", serunya agak panik. Beliau mulai telepon teman2nya, adakah yg  bisa membantunya. Disamping itu, sibuk pula menyiapkan peralatan. Namun masih bisa bersikap tenang tetapi gesit.

Tidak ada waktu lagi. Alhasil, aku tdk dipindahkan ke ruang persalinan krn memang kondisi yg tdk memungkinkan. Pantas saja, rasanya sedari tadi hasrat ingin mengejan tak tertahankan, tp belajar dr pengalaman persalinan pertama utk tdk mengejan sebelum ada aba2 dr bidan.

Ketika semua sdh siap, aku minta bu bidan utk pecahkan saja ketubannya karena sdh tdk kuat. Daaaannnn, proses persalinan pun berlangsung. Ternyata hanya butuh waktu 10-15 menit saja utk melakukan proses persalinan anak kelima ini (walaupun, kalau dirasa, bagaikan berjam-jam).
Alhamdulillah, Alhamdulillah, lahirlah ke dunia anak kelima kami dengan sehat dan selamat.
Daan, ini adalah persalinan pertama tanpa jahitan 😊. Biasanya selalu diobras...

Selesai persalinan, bidan trisna selalu berucap. Ini seperti buah simalakama, kalau tdk saya tolong bagaimana, sdh bukaan lengkap. Bismillah saja yaa, berpikir positif terus.

Ternyata, bidan Trisna pun kaget, ketika aku ceritakan alasan bidan klinik tdk bisa bersalin di sana. Mau dirujuk tp sdh bukaan lengkap, nanti brojol di jalan lebih beresiko.
Bismillah, akhirnya beliau mau menerima persalinan ini dengan rasa campur aduk.
Berulang kali beliau cerita ke teman2nya yg ditelepon atau yg sdh dtg utk membantu, kalau beliau ini "gemper" dengan persalinan ini. Maaf yaa bu 😊.
Yakin, pasti Allah yg menggerakkan semuanya.

Masyaa Allah, jika kita menggantungkan semuanya hanya kepada Allah, rasanya hati menjadi lebih tenang. Percayalah, Allah selalu ada utk kita, menolong kita, memberikan jalan-jalan terbaik-Nya bagi kehidupan kita.
Dialah Ar-Rahmaan bagi seluruh makhluk ciptaan-Nya.

Ditulis: 29 November 2022, siang hari menjelang sore yg sepi. Hanya ditemani sosok mungil yg benar2 tak berdaya, hari perdana dia menghirup udara dunia.

Menjaga Hati

Hanya sekedar unek-unek dalam hati yang semoga bisa terus menjadi reminder bagi diri. Beberapa hari lalu sempat chattingan sama kakak kelas...