Minggu, 12 Februari 2023

Episode Kehidupan Perdana Anak Kelima

Setiap anak memiliki episode kehidupannya masing-masing..

Kali ini mengenai episode kehidupan sang anak nomor lima.
Masyaa Allah, Masyaa Allah, Masyaa Allah. Itulah kata2 yg selalu terucap,
Alhamdulillah, Alhamdulillah.. Allah Maha Mengetahui, Maha Berkehendak..

Tepat sehari sebelum gelombang cinta itu muncul, bidan di suatu klinik tempat rencana melahirkan menyatakan bahwa di klinik tersebut tdk dapat menerima persalinan yg akan aku hadapi.
Aku pun lantas bertanya: "kenapa tdk bisa?"
Jawabnya, karena kehamilanku merupakan kehamilan kelima dengan jarak hamil yg berdekatan. Dalam kebijakan kesehatan sekarang, ini termasuk ke dalam resiko persalinan yg besar, khawatir terjadi pendarahan, dll..
Bidan tdk bisa mengambil tindakan, harus melalui dokter kandungan. Daan Qodarullah, di klinik itu hanya ada dokter kandungan laki-laki.

Padahal saat kontrol sebelumnya, tdk ada masalah apa pun. Bidan yg mengontrolku saat itu tdk pernah membicarakan hal ini, walaupun dia mengetahui riwayat kehamilanku sebelumnya.
Dia berkata: "nanti ibu tinggal datang aja, langsung ke IGD, gak ush daftar atau urus administrasi dulu".

Sepulang dr kontrol. Mulai mencari2 informasi mengenai bidan atau rumah sakit yg akan menjadi target tempat persalinan nanti dan mengoordinasikannya dengan pak suami yg berada di belahan bumi lain.

Qodarullah, tengah malam mendapat 2 jawaban dr org (yg pastinya Allah pilih utk membalas chatku hari itu). Pertama dari Mba Sakinah, yg sama2 sedang hamil, dan kedua dr Risa (adik iparku)..
Alhamdulillah, sdh ada target tempat persalinan walaupun belum pernah survey atau kontrol sekalipun.

Hari Selasa, tgl 29 November 2022, tepatnya di waktu subuh. Gelombang cinta itu mulai muncul, tp masih ringan dan sangat jarang. Kupikir itu karena mules biasa, seperti ingin BAB..
Lanjut di pagi harinya, gelombang cinta itu mulai menaikkan getarannya dengan frekuensi yg cukup sering.
Saat itu masih berpikir, apakah hr ini waktunya?
Aku tepis pikiran2 itu dengan mengurus anak2 di pagi hari, seperti biasanya.
Krn sejujurnya diri ini belum siap, aku masih berharap proses kontraksi dan persalinan terjadi di sore atau malam hari, di mana pak suami sdh bangun dan terjaga. Aku masih berharap, bisa ditemani dan disemangati oleh ayahnya anak2 walaupun secara virtual. Yaa, manusia cuma bisa berencana dan berharap, entah itu rencana dan harapannya baik menurut Allah atau tidak.

Tetapi, semakin ke sini, getaran itu semakin terasa..
Bismillah, mulai merubah mindset, atur pikiran utk "Aku siap jika hari ini adalah waktunya". Buang jauh-jauh harapan-rencana-angan2 semu, ikhlas dan ridho atas rencana Allah, gantungkan semuanya hanya kepada Allah saja.
Berusaha utk terus berpikir positif, selalu ingat Allah, berdo'a, berdo'a, dan berdo'a.

Sembari memainkan dan mengatur pikiran, tangan dan kaki mulai menyiapkan segala keperluan yg hendak dibutuhkan.
Pulang ke rumah utk mengambil semua barang yg akan dibawa, cek kondisi rumah dan berbenah sebentar.
Kembali ke rumah abi dengan perlahan2, beberapa kali berhenti sejenak utk mengatur nafas sambil terus berdo'a semoga ketubannya belum pecah. Ada Allah Al-qowiyyu, Yg Maha Kuat. Allah As-Salaam, Yg Maha Menolong.

Alhamdulillah, hari ini ada Ibrahim yg stand by di rumahnya. Jadilah dia bisa mengantarkanku ke bidan Trisna (bidan yg menjadi target tempat persalinan atas rekomendasi Mba Sakinah) krn jaraknya yg cukup dekat. Hanya bermodalkan maps yg dishare Mba Sakinah, Alhamdulillah Allah berikan jalan yg lancar tanpa macet dan tersesat.
Sebelum berangkat pun, aku sempat chat bidan Trisna, Alhamdulillah beliau ada dan bisa stand by.

Selama di mobil, rasa mules-gelombang-getaran-gejolak cinta dr sang buah hati semakin dahsyat dan sering. Terus berdo'a, mengontrol pikiran, beristighfar, memohon kepada Allah semoga setiap sakit yg aku rasakan ini Allah ridhoi dan menjadi penggugur dosa-dosaku yang masyaa Allah tak terhitung jumlahnya 😭

Setibanya di Bidan Trisna, aku menceritakan apa yg dikatakan bidan di klinik sebelumnya.
Beliau berkata: "Ayo naik, diperiksa dulu yaa, neng".
"Ya Allah, udh bukaan lengkap!", serunya agak panik. Beliau mulai telepon teman2nya, adakah yg  bisa membantunya. Disamping itu, sibuk pula menyiapkan peralatan. Namun masih bisa bersikap tenang tetapi gesit.

Tidak ada waktu lagi. Alhasil, aku tdk dipindahkan ke ruang persalinan krn memang kondisi yg tdk memungkinkan. Pantas saja, rasanya sedari tadi hasrat ingin mengejan tak tertahankan, tp belajar dr pengalaman persalinan pertama utk tdk mengejan sebelum ada aba2 dr bidan.

Ketika semua sdh siap, aku minta bu bidan utk pecahkan saja ketubannya karena sdh tdk kuat. Daaaannnn, proses persalinan pun berlangsung. Ternyata hanya butuh waktu 10-15 menit saja utk melakukan proses persalinan anak kelima ini (walaupun, kalau dirasa, bagaikan berjam-jam).
Alhamdulillah, Alhamdulillah, lahirlah ke dunia anak kelima kami dengan sehat dan selamat.
Daan, ini adalah persalinan pertama tanpa jahitan 😊. Biasanya selalu diobras...

Selesai persalinan, bidan trisna selalu berucap. Ini seperti buah simalakama, kalau tdk saya tolong bagaimana, sdh bukaan lengkap. Bismillah saja yaa, berpikir positif terus.

Ternyata, bidan Trisna pun kaget, ketika aku ceritakan alasan bidan klinik tdk bisa bersalin di sana. Mau dirujuk tp sdh bukaan lengkap, nanti brojol di jalan lebih beresiko.
Bismillah, akhirnya beliau mau menerima persalinan ini dengan rasa campur aduk.
Berulang kali beliau cerita ke teman2nya yg ditelepon atau yg sdh dtg utk membantu, kalau beliau ini "gemper" dengan persalinan ini. Maaf yaa bu 😊.
Yakin, pasti Allah yg menggerakkan semuanya.

Masyaa Allah, jika kita menggantungkan semuanya hanya kepada Allah, rasanya hati menjadi lebih tenang. Percayalah, Allah selalu ada utk kita, menolong kita, memberikan jalan-jalan terbaik-Nya bagi kehidupan kita.
Dialah Ar-Rahmaan bagi seluruh makhluk ciptaan-Nya.

Ditulis: 29 November 2022, siang hari menjelang sore yg sepi. Hanya ditemani sosok mungil yg benar2 tak berdaya, hari perdana dia menghirup udara dunia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Menjaga Hati

Hanya sekedar unek-unek dalam hati yang semoga bisa terus menjadi reminder bagi diri. Beberapa hari lalu sempat chattingan sama kakak kelas...