Hari ini, kau tampak lemah, lesu, dan sensitif. Pusing yaa nak? Serba gak enak?Matamu sayu dan tubuhmu panas. Maafkan bunda yg belum bisa selalu mendampingi dan membersamaimu. Tapi tenang saja nak, ada Allah yg selalu bersamamu, bersama kita, Allahu ma'anaa. Di kala manusia tdk bisa menemani setiap saat, Allah akan tetap ada, selalu setia menjaga. Maka nak, berusahalah menjadi hamba/budaknya Allah yg taat, yg selalu menyenangi hati 'majikannya' agar Dia ridho terhadap dirimu.
Jika sakit, bersabarlah. Berdo'a dan mohonlah kesembuhan kepada Yang Maha Menyembuhkan.
Di tanggal ini, 18 Februari, tepat 2 tahun lalu, kau lahir ke dunia, wahai Rosikh, anak bunda yg paling bongsor. Bunda jadi flashback masa2 itu.
Alhamdulillah, Allah mengabulkan do'a dan harapan bunda, agar ayahmu bisa menemani bunda melewati proses episode perdanamu ke dunia, bisa meilhatmu terlahir dan hadir di bumi Allah yg penuh dengan ujian ini.
Qodarullah, semua proses administrasi ayah selesai di akhir Januari (kalau tdk salah) dan ayah langsung mencari-memesan tiket pulang. Walaupun sempat ada kendala dan sedikit masalah ketika proses pulang ke Indonesia, Alhamdulillah setelah itu semuanya berjalan lancar. Melakukan perjalanan di masa pandemi dengan kebijakan yg terus berubah, dinamis, membuat para pelaku perjalanan harus lebih sabar dan sesering mungkin update terkait kebijakan2 yg berlaku di negara tujuan.
Alhamdulillah, Ayah sampai di Indonesia dengan selamat. Walaupun hasil tes (tes covid 19) ayah negatif, ayah tetap harus dikarantina di hotel yg sdh disediakan pemerintah selama beberapa hari.
Singkat cerita, di hari Ahad, 14 Februari 2021, kita menjemput ayah di hotel Sahid. Alhamdulillah, akhirnya kita bisa bertemu kembali, berkumpul bersama, bercengkrama dan saling melepas rindu.
4 hari kemudian, bunda mulai merasakan gelombang cinta darimu. Langsung saja, ayah dan bunda segera meluncur ke bidan Erna, rencana temapat bunda akan melahirkanmu, tempat di mana Mba Hanin pun dilahirkan 1 tahun yg lalu. Sesampainya di sana, ternyata baru bukaan 2 dan bidan Erna meminta surat keterangan tes covid sebagai salah satu persyaratan administrasi jika ketika proses persalinan nanti tdk berjalan normal dan harus dirujuk ke rumah sakit. Maka, ayah mengantarkan bunda ke Klinik Padjadjaran utk melakukan tes covid. Alhamdulillah, hasilnya negatif. Sempat harap2 cemas krn kondisi tubuh bunda saat itu tdk terlalu fit dan sedang batuk pilek.
Sore harinya, getaran cinta darimu semakin besar dan semakin sering. Bunda memastikan kembali apa saja yg harus dibawa. Setelah semuanya ok, ayah dan bunda berpamitan dengan kakak2mu yg sangat senang dan sdh tdk sabar ingin bertemu denganmu, menambah riuhnya keluarga Wisudawan di rumah. Kemudian, ayah dengan sigap mengantarkan bunda ke bidan Erna.
Sesampainya di sana, kontraksi yg terjadi tdk pernah berhenti, mules yg luar biasa terus menerus menghampiri, rasanya tdk ada jeda utk mengambil nafas. Jalan pun tertatih, hanya Allah Yang Maha Kuat dan Maha Mengatur, yg memerintahkan kaki ini agar tetap kuat menopang tubuh dan mampu melangkah. Ayahmu, dengan penuh kesabaran, memapah bunda agar bisa sampai di ruang persalinan dan membantu bunda utk bisa naik ke atas tempat persalinan.
Karena rasa mules yg terus menerus hadir, bidan tdk bisa mengecek pembukaan dan mengontrol detak jantung bayi. Sampai akhirnya adzan maghrib berkumandang. Ayah yg saat itu sedang berpuasa hanya bisa berbuka dengan sedikit makanan dan minum lalu segera sholat dan membersamai bunda kembali.
Kontraksi, mules, dan sakit yg dirasa semakin hebat, hasrat utk mengejan seperti sdh diubun-ubun. Yg bunda bisa lakukan hanya berdo'a, menguatkan diri, dan mensugesti pikiran "upi, kuat! Jangan mengejan! Tahan, kuat, kuat".
Mencari2 posisi yg cukup nyaman.
Hingga akhirnya, bunda hampir menyerah, tdk kuat lagi utk menahan. Ayah lantas memanggil bidan Erna, beliau yg baru selesai sholat segera menyahut. Dengan gesit dan tenang, beliau siapkan semuanya. Tdk butuh waktu lama, akhirnya kau lahir dengan suara tangisan yg nyaring dan keras, saking kerasnya, sempat terbesit dalam benak ayah utk menamaimu Abbas 😁.
Hai Rosikh, anak ayah-bunda yg Allah karuniai tandak cinta dari-Nya di pipi kirimu, menambah manis paras wajahmu yg ganteng dan Allah ciptakan begitu sempurna. Kau lahir dengan berat tubuh 4.2 kg dan panjang 52 cm, sempat membuat bu bidan kaget dan menimbang kembali berat tubuhmu utk kedua kalinya. Beliau berkata, "masyaa Allah, ini bayi dengan berat badan yg paling besar yg pernah saya tangani" 😊
Masyaa Allah, barakallah Rosikh, sang anak kalem yg diam2 menghanyutkan. Yg sempat membuat mbah utimu khawatir krn diammu, yg belum mau berkata2 di usia 1 tahun lebih.
Do'a bunda sama seperti do'a bunda utk mba Hanin, tumbuhlah menjadi anak yg bahagia, menjadi qurrotun 'ayun ayah-bunda.
Bermetamorfosislah menjadi org sholih yg mushlih, mukmin-muttaqin, pejuang Allah yg menegakkan syari'at-syari'atNya, suami yg selalu terjaga qowwamnya, ayah teladan bagi anak2mu kelak.
Salam hangat penuh cinta dr ayah-bunda 💕
Masyaa Allah, barakallah Rosikh, sang anak kalem yg diam2 menghanyutkan. Yg sempat membuat mbah utimu khawatir krn diammu, yg belum mau berkata2 di usia 1 tahun lebih.
Do'a bunda sama seperti do'a bunda utk mba Hanin, tumbuhlah menjadi anak yg bahagia, menjadi qurrotun 'ayun ayah-bunda.
Bermetamorfosislah menjadi org sholih yg mushlih, mukmin-muttaqin, pejuang Allah yg menegakkan syari'at-syari'atNya, suami yg selalu terjaga qowwamnya, ayah teladan bagi anak2mu kelak.
Salam hangat penuh cinta dr ayah-bunda 💕
Jatinangor, 18 Februari 2023
Tidak ada komentar:
Posting Komentar