Butuh waktu 6 tahun bagi diri ini utk benar-benar bisa memahami arti belahan jiwa yg sejati. Apakah ini waktu yg cukup lama? Ataukah terlalu dini? Entahlah.
Ketika hati ini mulai melabuhkan pada sang kekasih halal, terus tumbuh dan bersemi, mulai ada ketergantungan hidup kepadanya. Di saat itu, Allah pisahkan ruang dan jarak. Mungkin ini adalah ujian dan teguran bagi diri, agar hati ini tdk menaruh cinta berlebih pada makhluk melebihi kecintaan pada-Nya.Bagaimana rasanya?
Jujur, berat banget rasanya, ditambah kondisi sekarang yg harus membersamai 4 balita dalam keadaan hamil besar.
Tapi selalu yakin, ini adalah skenario terindah yg Allah rancang dalam hidupku karena kecintaan-Nya pada hamba-Nya yg penuh dosa ini.
Semoga, perpisahan ini menjadikanku sadar dan faham bahwa mencintai Allah harus lebih didahulukan daripada mencintai makhluk-Nya yg dicintai agar kecintaan ini membuahkan rasa cinta yg benar2 Allah cintai.
Menjadikan Allah sebagai satu-satunya tempat bergantung dan memohon pertolongan.
Teringat kisah para wanita hebat terdahulu. Bagaimana ketaatan dan cinta mereka pada Sang Rabb yg begitu besar. Maryam yg hamil dan melahirkan seorang diri, ditambah cemoohan masyarakat sekitarnya tanpa didampingi seorang suami. Bagaimana Siti Hajar yg harus terpisah jarak sengan suaminya dan membesarkan anaknya seorang diri di daerah tandus tak berpenghuni. Pantas saja, syurga menanti mereka.
Bagaimana denganku? Bermimpi ingin masuk surga seperti mereka, tapi, ujian tak seberat mereka aja masih suka mengeluh, merasa berat menjalani hari-hari. Astaghfirullah, Astaghfirullahal 'adziim.
Benar kata ustadz Oemar Mita, jika kita meng-zoom-out kan akhirat, maka ujian2 di dunia terasa kecil. Pun sebaliknya, jika kita meng-zoom-in kan akhirat, maka ujian2 di dunia terasa besar dan berat.
Maka zoom out kan akhirat dengan terus mengingat akhirat. Bagaimana kehidupan para org sholih di akhirat kelak, kenikmatan2 surga yg telah Allah janjikan. Agar kita menjalani hidup lebih ikhlas dan ringan, karena dunia hanyalah tempat menunggu sementara yg kelak akan menentukan tujuan akhir kita, yaitu akhirat.
Teringat kisah para wanita hebat terdahulu. Bagaimana ketaatan dan cinta mereka pada Sang Rabb yg begitu besar. Maryam yg hamil dan melahirkan seorang diri, ditambah cemoohan masyarakat sekitarnya tanpa didampingi seorang suami. Bagaimana Siti Hajar yg harus terpisah jarak sengan suaminya dan membesarkan anaknya seorang diri di daerah tandus tak berpenghuni. Pantas saja, syurga menanti mereka.
Bagaimana denganku? Bermimpi ingin masuk surga seperti mereka, tapi, ujian tak seberat mereka aja masih suka mengeluh, merasa berat menjalani hari-hari. Astaghfirullah, Astaghfirullahal 'adziim.
Benar kata ustadz Oemar Mita, jika kita meng-zoom-out kan akhirat, maka ujian2 di dunia terasa kecil. Pun sebaliknya, jika kita meng-zoom-in kan akhirat, maka ujian2 di dunia terasa besar dan berat.
Maka zoom out kan akhirat dengan terus mengingat akhirat. Bagaimana kehidupan para org sholih di akhirat kelak, kenikmatan2 surga yg telah Allah janjikan. Agar kita menjalani hidup lebih ikhlas dan ringan, karena dunia hanyalah tempat menunggu sementara yg kelak akan menentukan tujuan akhir kita, yaitu akhirat.
Jatinangor, Oktober 2022.
Memulai episode LDM yg entah akan berakhir kapan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar